Badan Usaha Milik Desa Kotakan

Dari Desa, Oleh Desa, Untuk Desa

Badan Usaha Milik Desa Kotakan

Bersama Membangun Kesejahteraan Desa

Badan Usaha Milik Desa Kotakan

Inovasi Desa, Kesejahteraan Bersama

News Image

admin 30 November 2025

Makam Bhuju' Nur Kasian Wisata Religi yang Diperkenalkan

KBRN, Situbondo: Universitas Abdurrachman Saleh (Unars) Situbondo, Jawa Timur, melalui Program Pengabdian Masyarakat, mengenalkan makam di atas bukit yang diyakini adalah makam "Bujhu' Nur Kasian".
Makam yang diduga Bujhu' Nur Kasian di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, Kabupaten Situbondo itu, selau ramai dari para peziarah. Maka wajar jika Unars mendorong menjadikannya sebagai wisata religi.
"Masyarakat Kotakan punya potensi wisata religi yang kuat dengan keberadaan makam Bhuju' Nur Kasian yang selama ini menjadi kegiatan ziarah masyarakat lokal," ujar Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Unars Situbondo, Dr. Nanda Widaninggar, Selasa (11/11/2025).
Masyarakat setempat meyakini, Bhuju' Nur Kasian alias Raden Seto merupakan keturunan Raja dari Kerajaan Arya Wiraraja dan seorang Adipati di Kabupaten Sumenep, Madura.
Dr. Nanda mengemukakan bahwa dukungan untuk menjadi wisata religi menjadi bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Unars Situbondo dan STIE Indonesia Surabaya yang pendanaannya didukung dari pemberdayaan berbasis masyarakat Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
"Program Pengabdian Masyarakat dengan tema "Pengembangan Sosioekonomi Kreatif Wisata Religi Bujuk Nur Kasian" ini menjadi solusi kompleksitas masalah sosial ekonomi di Desa Kotakan," ucap Dr. Nanda.
Kegiatan pengabdian ini berfokus pada sosialisasi program, meningkatkan kapasitas masyarakat, brainstorming ide kewirausahaan lokal, serta pembelajaran partisipatif yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan pengembangan ekonomi kreatif.
Program Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi ekonomi yang bersumber dari kegiatan wisata religi sekaligus mengembangkan model ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan.
"Wisata religi ini sekaligus mendorong kolaborasi antara masyarakat, akademisi dan pemerintahan desa dalam pengelolaan potensi wisata religi secara produktif dan profesional " imbuhnya.
Ia berharap, akan lahir komunitas masyarakat yang lebih mandiri secara ekonomi, berkarakter religius, serta mampu menjadikan wisata religi 'Bujuk Nur Kasian' sebagai pusat pertumbuhan sosial ekonomi baru di Desa Kotakan.
Senada juga disampaikan Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unars Situbondo, Dr. Mory Victor Febrianto bahwa wisata religi "Bujuk Nur Kasian" banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur.
"Lokasinya terletak di kawasan perbukitan yang asri, dan tempat ini menjadi perpaduan antara keindahan alam dan kekayaan tradisi spiritual masyarakat setempat," ucapnya.
Sementara itu, Dosen Program Studi Akuntansi STIE Indonesia Surabaya, Dr. Mia Ika Rahmawati mengatakan, wisata religi di kawasan perbukitan yang sejuk itu menawarkan pemandangan alam yang menenangkan.
"Tak hanya menjadi tempat berziarah, lokasi ini juga menjadi tujuan wisata budaya yang agamis, khas masyarakat Situbondo sebagai 'Kota Santri' yang masih lestari hingga kini," ujarnya.
Sementara itu, Kasi Pemerintahan Desa Kotakan, Anas Wijaya mengemukakan keberadaan wisata religi "Bujuk Nur Kasian" bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga simbol kebersamaan dan pelestarian nilai-nilai leluhur.
"Selain memperkuat spiritualitas, wisata religi ini juga menjadi daya tarik budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar," kata Anas.
Anas berterima kasih kepada Universitas Abdurrachman Saleh Situbondo dan STIE Indonesia Surabaya serta Kemdiktisaintek telah memberikan dukungan branding wisata religi "Bujuk Nur Kasian".
Adapun bantuan juga yang diterima masyarakat melalui BUMDes, tenda dan alas glamping atau tenda yang nantinya bisa disewakan kepada pengunjung, website BUMDes BBB, aplikasi akuntasi accurate.
"Kami juga menerima bantuan pembangunan pintu masuk ke wisata religi dan palang pintu otomatis. Saat ini kami memeprsiapkan pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis)," ucap Anas. ​