Badan Usaha Milik Desa Kotakan

Dari Desa, Oleh Desa, Untuk Desa

Badan Usaha Milik Desa Kotakan

Bersama Membangun Kesejahteraan Desa

Badan Usaha Milik Desa Kotakan

Inovasi Desa, Kesejahteraan Bersama

Budaya yang ada di Desa Kotakan ini seharusnya dilestarikan sesuai dengan amanat Undang-undang, yaitu bahwa budaya harus dimajukan, termasuk tradisi yang berpusat di makam-makam. Terkait dengan angka tahun sejarah awal mula Desa Kotakan, tidak dapat dipastikan karena tidak ada manuskrip, meskipun di sekitar tahun tersebut Jalan Panarukan telah dibangun dan kekuasaan ada di tangan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Raden Seto memiliki anak yang bernama “Juk Miarsah”, namun demikian “Juk Miarsah” bukan anak kandung melainkan anak angkat. Pada tahun 1980an yang menjaga (juru kunci) situs makam adalah Ibu Sujani, tetapi setelah Ibu Sujani meninggal yang meneruskan merawat makam tersebut adalah Bapak Darman, selaku Babinsa yang merupakan menantu dari Ibu Sujani. Lokasi rumah Bapak Darman ini dekat dengan makam tersebut.

Situs makam “Bujuk Nur Kasian” juga dijaga dan dirawat oleh para Perangkat Desa, di antaranya adalah Bapak Rahem, Bapak Husen, Bapak Sunarso dan Bapak Ruro. Tradisi Ziarah menjadi tradisi turun temurun yang kuat dan orisinal Indonesia. Ziarah merupakan budaya yang masih konsisten dijalankan karena memiliki nilai filosofis yang tinggi bagi Masyarakat.

Pengunjung yang mendatangi situs makam “Bujuk Nur Kasian” harus dalam keadaan berwudhu dan tidak sedang berhalangan bagi perempuan. Tradisi mensyaratkan bahwa pada saat pengunjung berziarah untuk pertama kalinya, mereka wajib meminta izin terlebih dahulu kepada Ibu Sujani.

Dari praktik-praktik yang dilakukan, termasuk di situs Makam “Bujuk Nur Kasian” dan “Banyu Urip”, masyarakat banyak memohon keberkahan dari Allah SWT yang bisa diperoleh melalui perantaraan wali atau tokoh agama yang dihormati. Secara filosofis nilai perspektif Max Scheler, aktivitas yang dilakukan di sekitar situs dapat memenuhi empat hierarki sebagai berikut:

Ziarah mengingatkan kembali akan adanya kematian dan kembalinya manusia kepada Tuhan. Melupakan sejenak urusan duniawi membawa ketenangan bagi jiwa. Ziarah yang benar adalah yang memperkuat keimanan, sehingga dalam mengunjungi situs ini hendaknya peziarah memaknainya sebagai sebuah wisata religi, wisata budaya, dan wisata ilmu pengetahuan.

Situs ini berada di wilayah perbukitan yang sangat indah, sehingga akan dilaksanakan event-event yang mampu menambah kecintaan terhadap alam, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Kegiatan storytelling, tadabur alam dengan glamping dan memperbanyak ibadah dengan tema “A Night in Juk Kasih”, festival budaya, dan festival keagamaan.