Bujuk Nur Kasian merupakan situs dua buah makam dari beliau-beliau yang dianggap sholeh/ah. Situs ini terletak di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, Kabupaten Situbondo, yang memiliki waktu tempuh sekitar tujuh menit dari pusat kota. Beliau yang dimakamkan di situs tersebut adalah Raden Seto dan istri dari Raden Seto. Tradisi lisan Masyarakat Desa Kotakan meyakini bahwa Raden Seto merupakan keturunan Raja yang berasal dari kerajaan Arya Wiraraja dan seorang Adipati di Sumenep.
Cerita awal mula makam Raden Seto disebut sebagai “Bujuk Nur Kasian” adalah seringnya ternak warga yang dimangsa binatang buas. Raden Seto ingin melindungi warga dan ternak di desa tersebut. Raden Seto memiliki Macan Ghaib atau macan putih yang bernama “Melati”. Macan Ghaib inilah yang melindungi warga dan harta bendanya dari bahaya. Raden Seto menjadi “kekasih” bagi warga karena kebaikannya.
Desa Kotakan dibabat sekitar tahun 1800-an oleh Raden Seto. Tahun tersebut dirunut dari usia cucu juru kunci (ditambah dengan informasi bahwa cucu tersebut diberi cerita oleh nenek buyutnya yang juga diberi cerita oleh nenek buyutnya pula). Kotakan berasal dari kata kotak, yang merupakan makam batu. Para antikuari telah menemukan sarkofagus di Dusun Bantongan, Desa Kotakan. Hal ini berarti telah ada peradaban di zaman prasejarah atau praaksara, yang menjadi pijakan peradaban-peradaban selanjutnya.
Budaya yang ada di Desa Kotakan ini seharusnya dilestarikan sesuai dengan amanat Undang-undang, yaitu bahwa budaya harus dimajukan, termasuk tradisi yang berpusat di makam-makam. Terkait dengan angka tahun sejarah awal mula Desa Kotakan, tidak dapat dipastikan karena tidak ada manuskrip, meskipun di sekitar tahun tersebut Jalan Panarukan telah dibangun dan kekuasaan ada di tangan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Raden Seto memiliki anak yang bernama “Juk Miarsah”, namun demikian “Juk Miarsah” bukan anak kandung melainkan anak angkat. Pada tahun 1980an yang menjaga (juru kunci) situs makam adalah Ibu Sujani, tetapi setelah Ibu Sujani meninggal yang meneruskan merawat makam tersebut adalah Bapak Darman, selaku Babinsa yang merupakan menantu dari Ibu Sujani. Lokasi rumah Bapak Darman ini dekat dengan makam tersebut.
Situs makam “Bujuk Nur Kasian” juga dijaga dan dirawat oleh para Perangkat Desa, di antaranya adalah Bapak Rahem, Bapak Husen, Bapak Sunarso dan Bapak Ruro. Tradisi Ziarah menjadi tradisi turun temurun yang kuat dan orisinal Indonesia. Ziarah merupakan budaya yang masih konsisten dijalankan karena memiliki nilai filosofis yang tinggi bagi Masyarakat.
Pengunjung yang mendatangi situs makam “Bujuk Nur Kasian” harus dalam keadaan berwudhu dan tidak sedang berhalangan bagi perempuan. Tradisi mensyaratkan bahwa pada saat pengunjung berziarah untuk pertama kalinya, mereka wajib meminta izin terlebih dahulu kepada Ibu Sujani.
Di dekat situs terdapat pula sumber air yang dinamakan “Banyu Urip”. Tidak jarang peziarah mengambil air “Banyu Urip” yang dipercaya secara turun temurun sangat berkhasiat sebagai obat. Letak air sumber ini cukup terpencil di dalam hutan dengan penerangan yang sangat minim jika malam hari. Uniknya, peziarah harus terlebih dahulu ke makam “Bujuk Nur Kasian” kemudian ke “Banyu Urip”. Apabila tidak memenuhi tata cara ini maka dipercaya bahwa hajatnya melalui air yang didoakan tidak akan terkabul.
Peziarah yang datang tidak hanya dari warga sekitar atau dari dalam kota. Peziarah diketahui berasal dari Surabaya, Madura, Jember, Probolinggo, Banyuwangi, Bondowoso, Sumberkolak, Besuki, Asembagus, dan Banyuputih. Kehadiran peziarah tidak ditentukan oleh hari-hari tertentu, namun pada umumnya datang pada malam Senin, Senin malam Selasa, Kamis malam Jumat, Jumat Legi, Jumat Kliwon, dan bulan Asyura.
Tradisi lisan menyatakan bahwa berziarah dan berdoa di situs makam dapat mengabulkan berbagai permintaan, tentunya apabila peziarah memiliki keyakinan terhadap doanya akan dikabulkan Allah SWT, karena “Bujuk Nur Kasian” hanya dianggap sebagai perantara menuju kepada Allah SWT
Masyarakat Desa Kotakan percaya bahwa dengan melakukan aktivitas ibadah dan non ibadah di situs makam “Bujuk Nur Kasian” dan “Banyu Urip” akan membawa ketenangan dan mengingatkan keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Masyarakat membutuhkan sesuatu yang dipercaya dan sesuatu yang menjadi sandaran dalam menghadapi hidup dan kehidupan. Masyarakat percaya akan terkabulnya hajat dan kesembuhan dari penyakit dengan melakukan ibadah di situs makam dan minum dari sumber air.
Dari praktik-praktik yang dilakukan, termasuk di situs Makam “Bujuk Nur Kasian” dan “Banyu Urip”, masyarakat banyak memohon keberkahan dari Allah SWT yang bisa diperoleh melalui perantaraan wali atau tokoh agama yang dihormati. Secara filosofis nilai perspektif Max Scheler, aktivitas yang dilakukan di sekitar situs dapat memenuhi empat hierarki sebagai berikut:
Ziarah mengingatkan kembali akan adanya kematian dan kembalinya manusia kepada Tuhan. Melupakan sejenak urusan duniawi membawa ketenangan bagi jiwa. Ziarah yang benar adalah yang memperkuat keimanan, sehingga dalam mengunjungi situs ini hendaknya peziarah memaknainya sebagai sebuah wisata religi, wisata budaya, dan wisata ilmu pengetahuan.
Situs ini berada di wilayah perbukitan yang sangat indah, sehingga akan dilaksanakan event-event yang mampu menambah kecintaan terhadap alam, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Kegiatan storytelling, tadabur alam dengan glamping dan memperbanyak ibadah dengan tema “A Night in Juk Kasih”, festival budaya, dan festival keagamaan.
Rebuilded 2025